Pintu kelas Mehdi saya ketuk pelan, perempuan setengah baya menyembul dari balik pintu. Raut muka perempuan itu terlihat sedih, tidak seperti biasanya yang selalu sumringah. Sapaan hangatnyapun tak saya jumpai. “Salam, khuby?” saya mencoba mencairkan kebekuan. Setelah menjawab salam, ia langsung melaporkan sesuatu: “Hari ini, Mehdi sangat aktif, lari ke sana ke mari dan menabrak besi” Deg...perasaan keibuanku langsung muncul, segera kuperiksa dan oh...ternyata keningnya menonjol...biru. Keesokannya, dapet laporan lain lagi “Mehdi abis main cakar cakaran” Nah loh...saya periksa lagi, kali ini tak ada bekas di badannya....pasti nasib buruk telah menimpa temannya. Saya bingung juga, kenapa akhir-akhir ini Mehdi rada-rada galak, saya lihat langsung dia pernah mendorong anak Rusi yang berbadan raksasa, apa gak takut kalau badan mungilnya itu didorong balik...pastinya dia yang bakal melayang. Apa ini yang dibilang sama Eriksion, masa labil dalam teori spiralnya. Tapi, balakangan Mehdi juga menunjukkan hal-hal positif yang menggembirakan saya. Misalnya, dia membantu saya mengambil jemuran, memencetkan buat saya no telpon keluarga di Indonesia yang beberapa kali sulit saya hubungi dan prestasi lainnya. Rasanya, tak adil hanya kerena beberapa kesalahannya, saya harus memarahinya. Tapi, bukan berarti tidak memberi pengertian kepadanya. Mehdi damai....donk ya..
Dunia anak-anak memang bermain, bahkan ia hidup dan tumbuh dengan bermain. Mereka akan protes kalau diminta untuk diam sejenak apalagi istirahat. Misalnya Mehdi, saat malam tiba, ia malah semakin aktif. Merasa akan berpisah dengan “main”, ia akan berlari ke sana kemari, berputar, melempar mainannya, meski terkadang sudah terlihat sempoyongan. Sepertinya ia ingin berteriak “Siapa bilang aku ngantuk?” “Aku tidak ingin tidur!” “Aku masih kuat!” Sedangkan, logika orang dewasa selalu mengatakan: “Nak, badanmu letih, kau butuh istirahat, kau harus tidur!” atau kadang keluar dalih lain: “Nak, energimu banyak sekali? kau tidak lelah? Tidurlah ibu sudah capek!” Nah loh...kalau sudah begini, mulai harus mencari solusi agar ibu dan anak, keduanya bisa sama-sama nyaman. Saya pernah mencoba mematikan semua lampu sebelum menidurkan Mehdi. Hm....tapi hanya sanggup bertahan satu dua hari. Malam-malam berikutnya, ia sudah merasa tidak terganggu lagi oleh pencahayaan, dengan asyiknya tetap berguling dan meloncat sampai 2 jam setelah lampu mati. Saya jadi balik kasihan, memangnya enak main sambil gelap-gelapan. Pernah juga nyoba praktekin trik “loloi” atau menyanyikan lagu sebelum tidur. Gak terlalu sukses juga, stok lagu sudah habis bahkan suara saya hampir hilang, sementara mata Mehdi masih 100 watt. Belum lagi di ruangan sebelah, ada yang sedang menahan tawa, melihat konser yang gak sukses. Weleh...weleh... Akhirnya, ayahnya Mehdi ikut turun tangan. “Mehdi harus puas main dulu kali, biar cape dan tidur” usul ayah. “Befarmain!” jawabku. Maksudnya menyilahkan si ayah mempraktekan idenya. Adegan berikutnya, ayah dan anak melakukan berbagai atraksi, dari mulai kuda-kudaan, petak umpat sampai lomba lari dan terjun bebas. Kali ini giliran saya yang ngikik...melihat ayah yang mulai meraba-raba pinggangnya. Wah...wah...gimana ya? Sementara ini sih, saya masih mencampuraduk ketiga trik itu atau barangkali ada yang punya trik lain?
Belakangan ini, saya sering banget mengeluh soal Mehdi sama si ayah. “Yah..Mehdi kok begini ya...?” “Mehdi kok belum bisa ini ya..?” “Seharusnya Mehdi begini loh...” dan masih banyak lagi, ungkapan yang kadang bila saya mengingatnya jadi geli sendiri. Si ayah, seperti biasa menghibur, meski yang dihibur sering tidak puasnya. Suatu hari, saya menemani Mehdi nonton acara anak-anak di televisi. Dalam acara tersebut, dihadirkan seorang bintang tamu cilik tunanetra bernama Ali, usianya sekitar 5-6 tahun. Ia membawakan beberapa lagu religius dengan suaranya yang syahdu. *Pokoknya bagus banget deh* Sampai ada permintaan dari penonton agar ia mengulangi beberapa lagu yang telah dinyanyikannya. Hebatnya lagi, dengan kondisi matanya seperti itu, ia juga hapal 7 juz dari al-quran. *Kacemes*. Di sela-sela menyanyi, Ali kecil bercerita kalau setiap harinya ia selalu membaca al-quran khusus tunanetra. Si Mc seperti tersihir oleh kehebatan Ali kecil dan berkali-kali memujinya juga orang tuanya yang dengan “seribu” kesabaran mendampingi serta mendidiknya. Dalam sebuah pernyataanya mc berpesan: “Sebuah contoh menarik dalam pendidikan. Orang tua Ali ini, tidak melihat kekurangan Ali, tetapi mencari serta mengembangkan potensi dan kelebihannya, sehingga Ali bisa sehebat ini” Ya...dengan beruasaha mencari kelebihannya, mungkin kita akan sedikit melupakan kekurangannya, Semoga bisa.................
 | Nimbrung | Dec 4, '07 11:11 PM for everyone |
Entah kapan mulainya, tiba-tiba kalo saya lagi di depan komputer, Mehdi langsung teriak pengen nimbrung. Gak diturutin bisa nangis dan histeris. Tapi, diturutin juga repot banget, karena dia yang bakal “nguasaiin” tuh komputer. Tangan kirinya menggerakkan tuts keyboard, sedang tangan kanannya memutar-mutar mouse sambil sesekali membantingnya. Klo dibiarin terus, umur keduanya gak akan lama. Buktinya aja, dua pesawat telpon kami sudah gak berfungsi. Jadi, sekarang saya ngempi-nya kalo Mehdi lagi bobo, alias ngalong. Soalnya siang hari, dia tidurnya gak banyak. Kadang, gregetan juga sih pengen sewaktu-waktu ngempi, apalagi sekarang saya kebagian kru di salah satu majalah PPI, jadi gak bisa jauh-jauh dari komputer. Pernah saya siasatin ngajak main dulu and ngeluarin berbagai macam mainan kesukaannya. Tapi, gak bisa lama, paling kuat lima sampai sepuluh menit. Selebihnya, dia pengen nimbrung lagi. Gimana dong ada yang punya trik atau solusi?
Hari-hari ini, saya lagi pusing tujuh keliling. Betapa tidak, Mehdi kumat lagi susah makannya. Segala macem sudah dicoba, belum juga ada hasilnya. Padahal, sudah eksperimen macem-macem multivitamin. Sudah juga nyoba resep ini itu. Tapi kenapa ya kok masih aja susah makannya? Barangkali ada yang punya resep atau jurus-jurus ditunggu banget. O,ya usia Mehdi sekarang hampir 11 bulan
Sudah hampir dua bulan, saya kuliah sambil bawa si kecil Mehdi, luar biasa repotnya. Soalnya lagi puncak-puncaknya musim dingin. K’lo saja jatah cuti saya belum habis, rasanya masih pengen mendekam di rumah, walaupun sebenarnya tak sabar untuk kuliah lagi. Paling kerasa hari pertama, bangun nyubuh biar gak ketinggalan bus jemputan (jam 07.10). Nyiapin si kecil yang masih ogah-ogahan bangun, ganti diapers, pake baju yang super berlapis dari mulai baju dalam, jaket, kaos tangan and kaki, syal, topi....wua...gak kerasa setengah jam berlalu. Belum lagi, persiapan buat saya sendiri....Soalnya waktu itu, lagi punck-puncaknya musim dingin. Jam 07. 15, dengan tergopoh, meluncur ke bawah (rumah kami di lantai 4) menuruni satu demi satu anak tangga. Setengah jam lebih, bus jemputan belum nongol juga. Semua gelisah menanti. Saya berdiri menahan angin dingin sahara yang menusuk, sambil gendong Mehdi. Nyesel, gak dengerin usul si ayah, “ jangan dulu masuk hari pertama”. Setelah telpon-telponan dengan pihak kampus, akhirnya bus datang juga, sekitar jam 08.05. Katannya sih ada miss, antara si supir dengan pihak pengelola kampus. Jam 08.35 tiba di kampus, segera meluncur ke penitipan anak. Setelah tanya sana sini, akhirnya ketemu juga, ruangan kelas untuk bayi di bawah satu tahun. Masuk ruangan, sudah disambut sama suara tangisan yang datang dari berbagai arah. Setelah melucuti baju dinginnya, pelan-pelan saya menaruh Mehdi yang tertidur, di ranjang bayi, gak lupa pesan ini dan itu sama pengasuh. Detik selanjutnya, saya tinggalkan ruangan dengan beribu kecemasan. Jam 08. 45, saya masuk auditorium untuk mengikuti perkuliahan umum. Pikiran saya masih melayang pada sebuah sudut ruangan, tempat para bayi menanti ibunya. Isi ceramah dari pak, Grujian, profesor senior bidang filsafat, hanya mampir sebentar di kepala saya. Selebihnya, dipenuhi beragam kecemasan. Sedang apa si kecil? Gimana k’lo dia bangun and nangis? Telaten gak ya si pegasuh sama Mehdi? Dan segungung kegelisahan lainnya terus menerus mendera batin saya. Saat ini, musim sudah berganti. Udara dingin tidak lagi mendera. Semoga Mehdi bisa menikmati sekolahnya.

 
Saat hamil tua, saya sudah berniat membeli keranjang bayi dengan alasan kalau nanti keluar rumah si kecil lebih nyaman tidur di keranjang. Selain itu, ibunya juga bisa santai, karena yang bawa keranjang pastilah si ayah (he...he...soalnya berat bo...). Tapi sampai hari kelahiran, karena berbagai kesibukan, kami belum sempat membelinya. Secara tak terduga, seminggu setelah kelahiran, tetangga saya orang Birma, menghadiahkan keranjang itu, persis seperti yang akan kami beli dari mulai model sampai motifnya, bedanya yang ini pake roda segala. Jadilah mimpi saya terwujud. Setiap keluar rumah dari mulai buka puasa bersama, ke dokter sampai jalan-jalanpun, Mehdi asyik tidur di keranjang ditenteng si ayah. Tanpa kami sadari, diam-diam ternyata Mehdi sudah jatuh cinta pada keranjangnya itu. Pernah suatu hari, kami pergi menjenguk teman yang baru datang dari Indonesia tanpa membawa keranjang, karena dirasa dekat. Ternyata, apa yang terjadi? Mehdi nangis terus dan merasa gak nyaman. Di rumah pun, kalau sudah rewel, biasanya ngedadak anteng kalau sudah masuk keranjang. Bahakan, saat Mehdi ngantuk harus didorong pake keranjang pula. Sampai ada tetangga yang menjuluki Mehdi “Anak Keranjang” Nah...loh, sekarang giliran saya yang pusing tujuh keliling. Masaahnya, ukuran badan Mehdi semakin membesar, sementara si keranang ada batas masa pakainya alias hampir gak muat. Kami mulai kasak kusuk mencari jalan keluar. Saya mencoba menaruhnya di tempat tidur bayi, bukannya tambah anteng, Mehdi malah menjerit-jerit. Akhirnya, keluar juga ide gila ayah: “Kita beli papan aja, terus dikasi roda....sama kan bisa didorong juga”. “Ayah-ayah....dari pada ngerjain itu ya...mending sekalian beli ranjang yang bisa didorong” Sahutku sewot. Sementara ini si keranjang memang masih muat, tapi entah satu atau dua bulan ke depan. Semoga Mehdi pada saatnya nanti pelan-pelan bisa berpisah dengan sahabatnya itu.
“Mehdi sakit yah....” ujarku pada suami suatu hari.”Badannya agak demam, bersin-bersin dan itu loh batuknya gak henti-henti, kadang malah dibarengin muntah segala” jelasku panjang lebar. “Jangan kuatir, mungkin karena perubahan cuaca” Sahut suamiku menenangkan. “Malam ini kita bawa ke dokter” tambahnya lagi. Sekitar jam 09 malam, kami mulai berkemas untuk pergi. Di luar sana, gerimis tak kunjung reda, angin musim gugur bertiup kencang menerbangkan dedaunan yang mulai menguning. Kami berjalan membelah gerimis. Untunglah ada dokter praktek yang lumayan dekat, jadi gak perlu telpon taksi. Sampai di tempat praktek, antrian lumayan panjang. Setelah nunggu lumayan lama, akhirnya sampe juga giliran kami. Kata dokter, “Mehdi kena flu berat, pasti tertular dari orang-orang sekitarnya”. Si ayah langsung ngaku “Iya dok...beberapa hari lalu saya sakit flu” “Untuk sementara ini, jangan mencium wajahnya dulu....” jelas dokter lagi. Si ayah terlihat sedih, kebayang bakalan ngiri k’lo ibu lagi cium Mehdi. Malam itu, Mehdi terjaga dan menangis terus, nafasnya sesak diiringi batuk yang bertubi-tubi. si Ibu cemas dan Ayah bingung. Kasihan Kau nak, kecil-kecil sudah minum antibiotik.
“Kring....” Suara telpon berdering, suami langsung mengangkat gagang telpon dan sesaat kemudian sudah terlihat asik berbincang dengan pemilik suara di seberang sana. “klik” suara gagang telpon ditutup. “Siapa? Ada apa?” Tanyaku tak sabar. “Si AF, al-hamdulillah ada proyek terjemahan lagi, ya...gak besar, tapi lumayanlah bisa berlanjut” jawab suamiku dengan wajah riang. Memang benar, sejak aku telat beberapa bulan yang lalu. Rezeki seperti berdatangan sendiri. Dulu, sebelum hamil, aku sempat cemas lantaran sering kebobolan ngatur anggaran “Gimana k’lo ada anak” Pikirku saat itu. Tapi al-hamdulillah, di saat pengeluaran mulai membengkak seperti sekarang ini (biaya periksa kandungan, transport, perbaikan gizi dll), ada saja pemasukan yang tak terduga. Selain beberapa proyek terjemahan, tahun ini kami mendapat tambahan beasiswa, lantaran IPK kami di atas rata-rata. Lebih terasa lagi saat usia kandunganku mulai menua, berkah itu semakin mengalir. Seorang teman meminta suami untuk menemani tamu dari Indonesia, lumayanlah hasilnya bisa untuk biaya persalinan. Dua minggu sebelum si kecil lahir, kami menang lomba menulis yang diadakan kedutaan dalam rangka HUT RI. Sebenarnya sih kami gak terlalu PD, mengingat persiapan menulisnya agak terburu-buru. Tiga harian sebelum batas pengiriman, baru kasak-kusuk diskusi tema, materi, cari data di internet, dll. Sehari sebelum hari H baru deh keluar ide dan malamnya langsung dikirim. Al-Hamdulillah, ternyata menang juga, juara pertama lagi. Hadiahnya, lumayanlah buat biaya akikah Mehdi. Benar kata orang tua dulu “anak pembawa rezeki”, setidaknya itu yang kami alami.
 | Positif | Oct 19, '06 1:24 AM for everyone |
Tiga tahun lamanya kami menunda kehamilan anak pertama. Saat itu pertimbangan kami cukup sederhana. Aku baru tiba di kota Qom dan tentu saja bahasa farsiku masih belepotan, sedang kuliah suami baru memasuki tahun-tahun pertama lagi pula tabungan kami masih sangat minim. Tidak sedikit teman, saudara, dosen yang bertanya kapan kami akan punya momongan. Biasanya hanya kujawab dengan senyuman sambil berkata...doakan saja. Saat itu, kami masih berencana menunda sampai kuliah selesai, setidaknya paling cepat sampai tahun depan. Tapi, tiba-tiba arah angin berputar dan mengubah niatan kami. Suatu hari aku menjenguk seorang teman yang baru saja melahirakan melalui operasi. Kulihat kondisi fisiknya begitu lemah, belum lagi ia harus mengurus bayinya jauh dari keluarga, satu-satunya teman berbagi adalah suami. Aku benar-benar iba melihatnya. Kisah ini aku bagi dengan suami, kemudian ia lekat menatap ke arahku sambil berkata: “Nampaknya, kita harus segera berproses”. Mataku terbelalak tak mengerti maksudnya. Ia menangkap kegelisahanku dan kembali berkata: “Selama ini kita menunda kehamilan karena pertimbangan studi. Tapi, nampaknya saat ini aku menagkap kecemasanmu untuk melewati proses kehamilan. Rasanya, tidak baik jika hal ini dibiarkan berlarut” Malam itu, kamipun bicara panjang lebar tentang rencana baru untuk memulai proses kehamilan dengan berbagai resiko yang mungkin akan terjadi semisal studi, ekonomi dan pertimbangan lainnya. Akupun akhirnya menyetujui, setelah suami berkali-kali berusaha meyakinkan. Sebulan setelah pembicaraan itu, datang bulanku terlambat beberapa hari. Sama sekali tidak ada rasa curiga, biasanya juga telat sampai semingguan, pikirku. Tapi, entah kenapa tiba-tiba aku iseng, mengambil pack tes dan hasilnya “o..la..la dua garis” Teriakku histeris tanpa sadar, suamipun meloncat kegiranagan. Kami bahagia namun setengah tak percaya, kok bisa secepat ini. Untuk meyakinkan kami tes darah ke salah satu Lab, dan ternyata “positif”.
| |