Tiga tahun lamanya kami menunda kehamilan anak pertama. Saat itu pertimbangan kami cukup sederhana. Aku baru tiba di kota Qom dan tentu saja bahasa farsiku masih belepotan, sedang kuliah suami baru memasuki tahun-tahun pertama lagi pula tabungan kami masih sangat minim. Tidak sedikit teman, saudara, dosen yang bertanya kapan kami akan punya momongan. Biasanya hanya kujawab dengan senyuman sambil berkata...doakan saja.
Saat itu, kami masih berencana menunda sampai kuliah selesai, setidaknya paling cepat sampai tahun depan. Tapi, tiba-tiba arah angin berputar dan mengubah niatan kami. Suatu hari aku menjenguk seorang teman yang baru saja melahirakan melalui operasi. Kulihat kondisi fisiknya begitu lemah, belum lagi ia harus mengurus bayinya jauh dari keluarga, satu-satunya teman berbagi adalah suami. Aku benar-benar iba melihatnya.
Kisah ini aku bagi dengan suami, kemudian ia lekat menatap ke arahku sambil berkata: “Nampaknya, kita harus segera berproses”. Mataku terbelalak tak mengerti maksudnya. Ia menangkap kegelisahanku dan kembali berkata: “Selama ini kita menunda kehamilan karena pertimbangan studi. Tapi, nampaknya saat ini aku menagkap kecemasanmu untuk melewati proses kehamilan. Rasanya, tidak baik jika hal ini dibiarkan berlarut”
Malam itu, kamipun bicara panjang lebar tentang rencana baru untuk memulai proses kehamilan dengan berbagai resiko yang mungkin akan terjadi semisal studi, ekonomi dan pertimbangan lainnya. Akupun akhirnya menyetujui, setelah suami berkali-kali berusaha meyakinkan.
Sebulan setelah pembicaraan itu, datang bulanku terlambat beberapa hari. Sama sekali tidak ada rasa curiga, biasanya juga telat sampai semingguan, pikirku. Tapi, entah kenapa tiba-tiba aku iseng, mengambil pack tes dan hasilnya “o..la..la dua garis” Teriakku histeris tanpa sadar, suamipun meloncat kegiranagan. Kami bahagia namun setengah tak percaya, kok bisa secepat ini. Untuk meyakinkan kami tes darah ke salah satu Lab, dan ternyata “positif”.