Dunia anak-anak memang bermain, bahkan ia hidup dan tumbuh dengan bermain. Mereka akan protes kalau diminta untuk diam sejenak apalagi istirahat. Misalnya Mehdi, saat malam tiba, ia malah semakin aktif. Merasa akan berpisah dengan “main”, ia akan berlari ke sana kemari, berputar, melempar mainannya, meski terkadang sudah terlihat sempoyongan. Sepertinya ia ingin berteriak “Siapa bilang aku ngantuk?” “Aku tidak ingin tidur!” “Aku masih kuat!”
Sedangkan, logika orang dewasa selalu mengatakan: “Nak, badanmu letih, kau butuh istirahat, kau harus tidur!” atau kadang keluar dalih lain: “Nak, energimu banyak sekali? kau tidak lelah? Tidurlah ibu sudah capek!”
Nah loh...kalau sudah begini, mulai harus mencari solusi agar ibu dan anak, keduanya bisa sama-sama nyaman.
Saya pernah mencoba mematikan semua lampu sebelum menidurkan Mehdi. Hm....tapi hanya sanggup bertahan satu dua hari. Malam-malam berikutnya, ia sudah merasa tidak terganggu lagi oleh pencahayaan, dengan asyiknya tetap berguling dan meloncat sampai 2 jam setelah lampu mati. Saya jadi balik kasihan, memangnya enak main sambil gelap-gelapan.
Pernah juga nyoba praktekin trik “loloi” atau menyanyikan lagu sebelum tidur. Gak terlalu sukses juga, stok lagu sudah habis bahkan suara saya hampir hilang, sementara mata Mehdi masih 100 watt. Belum lagi di ruangan sebelah, ada yang sedang menahan tawa, melihat konser yang gak sukses. Weleh...weleh...
Akhirnya, ayahnya Mehdi ikut turun tangan. “Mehdi harus puas main dulu kali, biar cape dan tidur” usul ayah. “Befarmain!” jawabku. Maksudnya menyilahkan si ayah mempraktekan idenya. Adegan berikutnya, ayah dan anak melakukan berbagai atraksi, dari mulai kuda-kudaan, petak umpat sampai lomba lari dan terjun bebas. Kali ini giliran saya yang ngikik...melihat ayah yang mulai meraba-raba pinggangnya.
Wah...wah...gimana ya? Sementara ini sih, saya masih mencampuraduk ketiga trik itu atau barangkali ada yang punya trik lain?