Pintu kelas Mehdi saya ketuk pelan, perempuan setengah baya menyembul dari balik pintu. Raut muka perempuan itu terlihat sedih, tidak seperti biasanya yang selalu sumringah. Sapaan hangatnyapun tak saya jumpai. “Salam, khuby?” saya mencoba mencairkan kebekuan.
Setelah menjawab salam, ia langsung melaporkan sesuatu: “Hari ini, Mehdi sangat aktif, lari ke sana ke mari dan menabrak besi” Deg...perasaan keibuanku langsung muncul, segera kuperiksa dan oh...ternyata keningnya menonjol...biru.
Keesokannya, dapet laporan lain lagi “Mehdi abis main cakar cakaran” Nah loh...saya periksa lagi, kali ini tak ada bekas di badannya....pasti nasib buruk telah menimpa temannya.
Saya bingung juga, kenapa akhir-akhir ini Mehdi rada-rada galak, saya lihat langsung dia pernah mendorong anak Rusi yang berbadan raksasa, apa gak takut kalau badan mungilnya itu didorong balik...pastinya dia yang bakal melayang. Apa ini yang dibilang sama Eriksion, masa labil dalam teori spiralnya.
Tapi, balakangan Mehdi juga menunjukkan hal-hal positif yang menggembirakan saya. Misalnya, dia membantu saya mengambil jemuran, memencetkan buat saya no telpon keluarga di Indonesia yang beberapa kali sulit saya hubungi dan prestasi lainnya.
Rasanya, tak adil hanya kerena beberapa kesalahannya, saya harus memarahinya. Tapi, bukan berarti tidak memberi pengertian kepadanya. Mehdi damai....donk ya..